KOMSOS BINTARAN

KOMSOS BINTARAN

21/06/08

BINTARAN MENYONGSONG KONGRES EKARISTI

Sebagai wujud partisipasi Gereja St. Yusup Bintaran Yogyakarta dan Kongres Ekaristi Keuskupan I Keuskupan Agung Semarang, pada Hari Selasa Legi, 13 Mei 2008 jam 18.00 WIB. Tim Liturgi mengadakan Sosialisasi Kongres Ekaristi I Keuskupan. Sebagai narasumber adalah Bapak Joko dan Bapak Ch. Tri Harnadi. Keduanya adalah dari Tim Liturgi Kevikepan DIY.

Acara ini dihadiri kurang lebih 50 peserta dari perwakilan lingkungan, biara/komunitas, prodiakon dan Tim Liturgi Paroki.

Acara diawali oleh pengantar dari Romo FX. Agus Suryana Gunadi, Pr selaku pastor paroki. Dalam pengantarnya Romo Agus menjelaskan secara singkat apa itu Konggres Ekaristi, dan apa yang akan kita laksanakan untuk mendukungnya. Pada kesempatan ini pula Romo Agus juga menggambarkan dinamika umat Bintaran yang masih "aras-arasen" dalam beradorasi, padahal selama ini adorasi di Bintaran hanya dilaksanakan lebih kurang 30 Menit. Harapan beliau, dengan Konggres Ekaristi ini umat Bintaran semakin mencintai Ekaristi dan devosinya (Adorasi Ekaristi).

Acara dilanjutkan dengan penjelasan singkat jadwal acara Kongres Ekaristi, siapa yang terlibat dan segala aspek teknis tentang Kongres Ekaristi. Oleh Bapak Joko. Sebagai acara berikutnya adalah pemaparan secara rinci apa itu Kongres Ekaristi oleh Bapak Ch. Tri Harnadi dan apa peran serta umat paroki untuk terlibat dan mendukung Kongres Ekaristi ini. Acara ditutup pada pukul 19.30 WIB. @Red.

MENGENAL LEBIH JAUH
KONGRES EKARISTI KEUSKUPAN I
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

APA ITU KONGRES EKARISTI?

Kongres, berasal dari bahasa Latin "congredior-congressus sum". Istilah tersebut merupakan gabungan dari kata "cum" – "gradior" (gradior-gressus sum): artinya melangkah, berjalan, pergi, maju bergerak; dengan demikian "congredior" artinya: maju bergerak bersama untuk berhimpun. Dalam kata itu terkandung adanya gerakan bersama untuk berhimpun.

Ekaristi sendiri berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, artinya bersyukur dan berterima kasih. Dengan pengertian tersebut Kongres Ekaristi kita artikan sebagai peristiwa umat bergerak bersama untuk berhimpun dengan tujuan bersyukur dan berterimakasih atas Allah yang telah mengasihi manusia dan seluruh dunia, yang ditandakan dalam pemberian diri Putera-Nya Yesus Kristus agar manusia dan seluruh dunia diselamatkan.

Kongres Ekaristi merupakan sebuah Devosi Ekaristi yang diwujudkan dalam bentuk pertemuan umat beriman entah di tingkat Internasional, Nasional atau lokal (keuskupan) untuk memahami, merayakan dan menghayati Ekaristi dengan segala aspeknya. Oleh karena itu dalam Kongres Ekaristi (bdk. Dokumen Eucharistiae Sacramentum art.100) hendaknya diadakan aneka macam kegiatan yang berpusat pada Ekaristi. Kegiatan itu meliputi perayaan, sidang/pertemuan, sembah sujud (adorasi) dan prosesi Sakramen Mahakudus (sejauh situasi memungkinkan).

Menurut cakupan wilayahnya Kongres Ekaristi dapat dilaksanakan secara internasional. Disebut Kongres Ekaristi Internasional, karena melibatkan umat Katolik seluruh dunia untuk berhimpun di suatu tempat. Dapat juga dilaksanakan secara nasional. Disebut Kongres Ekaristi Nasional, karena melibatkan umat Katolik dalam suatu negara. Ada juga Kongres Ekaristi lokal, disebut juga Kongres Ekaristi Keuskupan, karena melibatkan umat Katolik dalam suatu Keuskupan. Kongres Ekaristi Keuskupan inilah yang akan kami selenggarakan sebagai yang pertama di Keuskupan Agung Semarang.

Kongres Ekaristi diadakan secara meriah dan bersifat berkala ( setiap 4 tahun) dan dihadiri oleh para wakil/utusan dari Gereja-Gereja.

Untuk memfokuskan program dan acaranya, setiap Kongres Ekaristi baik di tingkat Internasional, nasional maupun lokal memiliki tema yang diangkat.

YANG MELATARBELAKANGI KONGRES EKARISTI KEUSKUPAN I KEUSKUPAN

Dinamika hidup rohani umat Katolik Keuskupan Agung Semarang sendiri yang semakin menampakkan kasihnya kepada Tuhan Yesus yang selalu memberikan diri-Nya dalam perayaan Ekaristi, yang selalu hadir dalam Sakramen Mahakudus. Tahun 2007 yang lalu ditandai dengan dimulainya Adorasi Ekaristi Abadi, suatu devosi umat untuk berjaga dan berdoa selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Di tengah umat muncul habitus untuk mengadakan adorasi Ekaristi pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Umat Allah KAS bersyukur karena telah disertai dalam peziarahan iman umat Allah KAS yang telah menempuh perjalanan sejarahnya sejak tahun 1940. Tanggal 25 Juni 2008, Gereja KAS merayakan hari kelahirannya yang ke 68. Kehidupan iman umat yang tumbuh berkembang dengan subur tidak lepas dari peran serta Allah yang mengalirkan berkat dan kekuatan-Nya melalui Ekaristi dan dari peran serta para misionaris dan para tokoh umat yang terus berkarya di KAS ini.

Searah dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2006-2010 kita umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam bimbingan Roh Kudus ingin "semakin menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk. Luk 4: 18–19). Mewujudkan Kerajaan Allah berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia, dan melestarikan keutuhan ciptaan." Itulah roh yang menjiwai hidup dan segala kegiatan pastoral yang kami laksanakan dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan.

Umat Allah KAS juga memohon kepada Allah agar terus memberi kekuatan batin/iman untuk melanjutkan peziarahan iman dan mewujudkan karya pastoral sesuai dengan Arah Dasar KAS. Permohonon itu secara khusus diwujudkan melalui penghayatan Ekaristi dan segala devosinya.

Diselenggarakannya Kongres Ekaristi Internasional ke-49 di Quebeq Canada pada tanggal 15-22 Juni 2008, yang diadakan empat tahun sekali. Kami berharap setiap kali diselenggarakan Kongres Ekaristi Internasional, Keuskupan Agung Semarang juga menyelenggarakan Kongres Ekaristi Keuskupan I, II, dan seterusnya.

TEMA KONGRES EKARISTI INI: "BERBAGI LIMA ROTI DAN DUA IKAN",
APA MAKNANYA?

Tema Kongres Ekaristi Keuskupan I adalah "Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan", berkaitan dengan Arah Dasar juga, sesuai dengan fokus pastoral tahun 2008, yakni anak dan remaja. Ada orang mengatakan, "Satu contoh nyata lebih berdaya daripada seribu kata". Supaya anak dan remaja terlibat untuk pengembangan umat, kami tampilkan seorang tokoh anak dari Kitab Suci, yaitu seorang anak yang oleh Yohanes, penginjil itu, dikenal oleh Andreas mempunyai lima roti dan dua ikan. Dari anak tersebut kita dapat belajar makna berbagi. Persembahan tulus dari seorang anak, setelah diberkati oleh Tuhan, dapat menggerakkan hati orang banyak untuk berbagi. Peristiwa itu dikenal mukjizat pergandaan lima roti dan dua ikan. Peristiwa tersebut terjadi di Betsaida. Dan dari Betsaida terjadilah gerakan berbagi, yang berpola pada tindakan Tuhan Yesus yang memberikan diri-Nya sendiri demi keselamatan manusia dan seluruh dunia. Dari Betsaida gerakan itu meluas ke seluruh dunia, diperbarui setiap kali Ekaristi dirayakan.

APA SAJA AKTIVITAS DALAM KONGRES EKARISTI NANTI?

Aktivitas dalam Kongres Ekaristi nanti dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dari perspektif waktu: ada aktivitas sebelum Kongres, selama Kongres dan setelah Kongres.

Sebelum Kongres Ekaristi kami membicarakan gagasan rencana menyelenggarakan Kongres Ekaristi dalam Rapat Pleno Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, tanggal 8-10 Oktober 2007. Setelah disepakati kami mematangkan konsep Kongres Ekaristi itu, bersumber dari pengalaman Kongres Ekaristi yang telah diselenggarakan di negara-negara lain. Kemudian melengkapi dengan membentuk Panitia Kongres, dan kemudian mengadakan sosialisasi mengenai Kongres Ekaristi tersebut. Untuk itu diadakan suatu gerakan umat, yang kami sebut dengan "Gerakan Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan", suatu gerakan solidaritas yang berbekal pada kemampuan yang ada, swadaya, melalui gerakan-gerakan sederhana dalam berbagai dimensi, yang meliputi dimensi rohani, dimensi etis-moral, serta dimensi sosial kemasyarakatan dan ekologis kosmik, searah dengan roh Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang yang dirumuskan dengan "mewujudkan Kerajaan Allah dengan bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia dan melestarikan keutuhan ciptaan".

Selama Kongres Ekaristi akan diselenggarakan berbagai aktivitas. Jumat, 27 Juni 2008: Misa Pembukaan bersama umat dan Prosesi Sakramen Mahakudus dari Gereja Ambarawa menuju Gua Maria Kerep. Sabtu, 28 Juni 2008: pertemuan/seminar para utusan paroki, komunitas, kelompok dan panggung kreasi/pentas. Minggu, 29 Juni 2008: Perayaan Puncak Ekaristi di Gua Maria Ambarawa, bersama umat. Selama Kongres berlangsung di Ambarawa kami menganjurkan umat mengadakan adorasi Ekaristi dari tanggal 27-29 Juni 2008. Diusahakan sehari atau sesuai dengan situasi tempat/paroki. Selama itu pula hendaknya diadakan penerimaan sakramen tobat. Kevikepan diharapkan mengadakan sarasehan/seminar tentang Ekaristi. Waktunya mengambil salah satu hari dari tanggal 27-29 Juni 2008.

Setelah Kongres Ekaristi diharapkan Gerakan Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan dilaksanakan terus, dan bahkan dikembangkan. Misalnya persahabatan dengan Allah diupayakan dengan semakin cinta pada Ekaristi dengan merayakannya (harian dan Minggu), mengangkat martabat pribadi manusia dengan menghargai anak dan remaja, melibatkan mereka untuk pengembangan umat, melestarikan keutuhan ciptaan dengan mengembangkan upaya-upaya menghadapi bahaya pemanasan global, misalnya mendukung gerakan mengubah sampah menjadi berkah (Tema APP 2008).

SIAPA YANG DIHARAPKAN TERLIBAT?

Kongres itu merupakan perisitiwa iman umat. Maka, diharapkan seluruh umat terlibat. Karena itu, sementara diselenggarakan Kongres terjadi di Kerep Ambarawa, umat setiap paroki di wilayah Keuskupan Agung Semarang juga mengadakan aktivitas serupa sesuai dengan keadaan paroki. Kongres di Ambarawa kemungkinan akan melibatkan kurang lebih 800 orang. Peserta Kongres adalah wakil dari paroki 5 orang (2 dewasa dan 3 anak-remaja), dan beberapa wakil dari kelompok kategorial, seperti kelompok-kelompok doa, dll, serta Panitia sendiri, sesuai dengan kapasitas tempat dll.

CAPAIAN SEPERTI APA YANG DIHARAPKAN
SETELAH KONGRES EKARISTI SELESAI DILAKSANAKAN?

Setelah Kongres Ekaristi selesai dilaksanakan kami berharap umat Katolik semakin cinta Ekaristi, artinya semakin cinta Yesus yang sekarang ini pun hadir dalam hati manusia, dalam peristiwa-peristiwa dunia, tetap bekerja demi keselamatan umat manusia dan alam semesta. Dengan demikian umat Katolik menjadi berkah bagi masyarakat, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Kesaksian hidup almarhumah Bunda Teresa dari Kalkuta sangatlah mengesankan. Berkat pengalaman hidup dari Ekaristi, Bunda Teresa menjadi mampu untuk menemukan Yesus, dalam diri mereka yang disebutnya "the poorest among the poor", yang termiskin dari yang miskin.

APA YANG HARUS DISIAPKAN OLEH UMAT
MENYAMBUT ADANYA KONGRES EKARISTI INI?

Sebagai peristiwa iman umat Kongres Ekaristi ini kami harapkan menjadi "magic moment", suatu peristiwa yang sungguh mengesan bagi umat, sehingga mampu membarui hidup beriman umat. Karena itu umat kami harapkan bersedia memahami maksud Kongres Ekaristi itu dengan Gerakan Berbagi-nya. Banyak sarana dapat dimanfaatkan untuk memahami maksud itu. Bila terjadi pemahaman yang mendalam diharapkan Ekaristi semakin dicintai, dan dengan demikian kesediaan berbagi menjadi terwujud dalam berbagai bentuknya. Agar terjadi pemahaman mendalam itu kami mengajak umat untuk berdoa bagi terselenggaranya Kongres Ekaristi Keuskupan I Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 27-29 Juni 2008 nanti.

18/04/08

Paguyuban Baru di Gereja St. Yusup Bintaran



Bersamaan dengan Penerimaan Sakramen Krisma pada hari Minggu, 13 April 2008 dalam Berkat Penutup, Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr juga berkenan untuk memberkati Paguyuban Gamelan. Paguyuban Gamelan ini juga masih berusia muda karena dibentuk hanya beberapa minggu sebelum Penerimaan Krisma. Paguyuban Gamelan ini juga berisi orang-orang muda dan keluarga-keluarga muda. Dalam penampilannya pada saat Penerimaan Krisma yang lalu walaupun dengan personil yang 90% masih belajar namun dapat dengan baik membawakan setiap lagu. Proficiat atas terbentuknya Paguyuban Gamelan, semoga dapat terus berkarya untuk melayani Gereja. @Tim Komsos

Mengenal Lebih Dekat ERG



Pada Perayaan Ekaristi dan Penerimaan Sakramen Krisma pada tanggal 13 April 2008 yang lalu, mungkin di antara kita bertanya-tanya. Siapa yang memakai seragam hitam kombinasi putih bertuliskan ERG (Emergency Response Groups) yang mondar-mandir pada saat acara. Apakah itu panitia? Atau apakah semacam EO (event orgenaizer)?


Jawabannya adalah : ERG adalah komunitas “bayangan” yang “independen” tidak mempunyai kepengurusan dan tidak berdiri dalam struktur kepengurusan gereja dan Dewan Paroki. Komunitas ini lahir dari ketidaksengajaan karena anggotanya sering ketemu, sering bertukar pikiran dan mempunyai kesamaan misi dan visi yaitu “Bersama, Mengabdi Dengan Sepenuh Hati”. Komunitas ini berisi orang-orang muda atau yang berjiwa muda. Setiap anggota komunitas ini mempunyai kesamaan sifat dan prinsip, yaitu “terlibat untuk hebat”. Bukan untuk hebatnya komunitas atau individu tetapi untuk hebatnya Gereja Bintaran. Komunitas ini tidak bersifat eksklusif, tetapi terbuka untuk siapa saja yang mau dan bersedia. Syaratnya cukup mudah, hanya cukup mau bekerja keras, mau terlibat, saling melengkapi dan mau menyediakan waktu untuk bersama mengabdi memajukan Gereja Bintaran. Bukan hanya untuk event-event tertentu saja, tetapi untuk setiap saat dimana Gereja memanggil dan membutuhkan.


Catatan berikut mungkin bisa sedikit membantu untuk mengenal lebih jauh Komunitas ERG. Dalam kesempatan kunjungan Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr, sebelum acara wawanhati, di ruang makan pasturan Bapak Uskup bertanya kepada salah dua yang memakai seragam ERG yang kebetulan ada di tempat itu. “ERG niku napa mas?” Pertanyaan yang sesungguhnya membuat bingung, akan tetapi Romo Agus menjawab pada kesempatan itu, ERG itu adalah tukang “tambal sulame” Bintaran, jadi setiap ada event-event atau apa saja di Bintaran ERG ini memikirkan dan membantu hal-hal yang belum terpikirkan. Memang benar, komunitas ERG ini selalu berusaha membantu kelancaran setiap acara di paroki sehingga semua dapat berjalan lancar, bukan mengharap apa-apa namun kembali bahwa niat komunitas ini adalah mengabdi dengan sepenuh hati, jadi dalam setiap event kita berusaha “menambal sulam” dengan talenta yang kita miliki, apa-apa yang belum disentuh karena memang keterbatasan. Semua itu bukan maksud ingin menonjolkan diri dan komunitas, akan tetapi semua itu demi kelancaran dan sukses bersama.


Dalam pendanaan Komunitas ini lepas dari Gereja ataupun Dewan Paroki, setiap membutuhkan dana baik untuk sragam, refresing dan lain-lain, komunitas ini ikut berpartisipasi dalam tugas parkir dan jaga panduan di gereja. Hasil dari kegiatan-kegiatan itulah yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan dan pendanaan ERG. Selain itu ada beberapa donatur yang membantu pendanaan komunitas ini, secara khusus pada saat-saat tertentu.


Sedikit catatan di atas mungkin bisa membantu kita untuk mengenal lebih dekat Komunitas ERG yang selama ini mungkin membuat penasaran hati kita. Akhirnya Semoga Tuhan senantiasa memberkati niat kami untuk bersama, mengabdi dengan sepenuh hati. @ERG.

Wawanhati Bersama Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr



Dari serangkaian kunjungan Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr di Gereja St. Yusup Bintaran diakhiri dengan wawanhati dengan perwakilan umat dan lingkungan, komunitas-komunitas serta paguyuban-paguyuban umat di Paroki Bintaran. Pada wawanhati ini selain mendengarkan “pangandikan” dari Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr yang diantaranya menyangkut topik tentang kemiskinan, sosial budaya, sejarah dan kerukunan antar umat beragama juga diadakan dialog “tanya jawab”. Salah satu penanya dalam forum ini mengemukakan mengenai dunia pendidikan, secara khusus mengenai mahalnya biaya sekolah. Dalam tanggapannya Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr berkata “saya memahami dan tahu segala kesulitan dan kendala yang dihadapi umat dalam dunia pendidikan, akan tetapi saya juga tidak tahu cara dan bagaimana mengatasi masalah itu.” Dalam penjelasannya Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr mengatakan bahwa masalah pendidikan bukan semata-mata masalah Gereja, akan tetapi itu merupakan tanggung jawab negara yang telah menarik pajak dari rakyat yang sesungguhnya harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat salah satunya pendidikan. Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr juga menyampaikan bahwa sekolah-sekolah Katolik mau tidak mau harus menarik biaya yang mahal dikarenakan selama ini hampir seluruh yayasan-yayasan Katolik setiap tahunnya mengalami defisit yang cukup besar, karena sekolah-sekolah katolik menerapkan subsidi silang untuk membantu sekolah-sekolah di daerah yang perekonomiannya jauh dari kita. Pada akhirnyalah kita yang boleh dianggap “ekonomi lebih mapan” (tidak semuanya) membayar biaya pendidikan lebih mahal.
Dalam diskusi ini pula Bapak Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr menyampaikan asal mula Santo Yusup digunakan sebagai pelindung Gereja Bintaran. Menurut beliau pemberian Santo Yusup sebagai nama pelindung Gereja bintaran tidak bisa lepas dari sejarah, dimana Gereja Bintaran ini merupakan Gereja Jawa yang pertama. Sedangkan dalam tradisi jawa, orang jawa itu bekerja, berprilaku menurut titah. Pada jaman dahulu orang jawa sering berkumpul di alun-alun untuk mendengarkan perintah (titah) dari Sultan, setelah mendengarkan titah itu mereka baru mulai bekerja atau memulai langkah. Begitu pula dengan Santo Yusup, dia adalah orang yang selalu menuruti titah, ini jelas digambarkan dalam Kitab Suci, bahwa ketika Santo Yusup akan menceraikan Maria, ia mendapatkan titah (wangsit) dari malaikat untuk tidak menceraikan Maria. Akhirnya Santo Yusup tidak jadi menceraikan Maria, begitu pula ketika ia harus mengungsi ke Mesir, ia juga mendapat petujuk dari mimpi. Dari sifat-sifat itulah maka Santo Yusup dipilih untuk menjadi pelindung Gereja Bintaran. Acara ini dihadiri kurang lebih 240 umat dan ditutup pada jam 13.00 WIB. @Tim Komsos.

Pesta Umat, Gereja St. Yusup Bintaran



Pada hari Minggu, 13 April 2008, setelah Perayaan Ekaristi dan Penerimaan Sakramen Krisma di halaman depan Gereja diadakan pesta umat sebagai wujud syukur atas penerimaan Sakramen Krisma dan atas kunjungan Gembala Gereja, Bapak Uskup.


Moment ini juga sebagai sarana umat untuk dapat berinteraksi langsung dengan Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Ignasius Suharyo, Pr. Pesta umat ini melibatkan seluruh lingkungan di Paroki St. Yusup Bintaran yaitu dengan membawa makanan kecil untuk disajikan bersama dan dinikmati bersama-sama. @Tim Komsos.

Penerimaan Krisma di Gereja St. Yusup Bintaran



Pada hari Minggu tanggal 13 April bertepatan dengan hari Minggu Paskah ke IV dan Hari Minggu Panggilan, di Gereja St. Yusup Bintaran diterimakan sakramen Krisma dari tangan Mgr. Ignasius Suharyo, Pr Uskup Agung Semarang sebanyak 60 krismawan-krismawati. Perayaan Ekaristi yang dihadiri kurang lebih 1000 umat, dipimpin Selebran Utama Bapak Uskup dan Imam pendamping : Romo FX. Agus Suryana Gunadi, Pr, Romo Ag. Tejo Kusumantono, Pr dan Romo M. Soegita, Pr.

Perayaan Ekaristi ini bernuansakan jawa, dengan diiringi gamelan dan seluruh petugas tata laksana memaki pakaian “kejawen”. Hal ini semakin menggaris bawahi bahwa Gereja St. Yusup Bintaran merupakan gereja yang berarsitektur Eropa tetapi juga merupakan gereja “jawa” (pribumi) yang pertama. Akhirnya prificiat atas diterimakannya Sakramen Krisma, semoga berkat karunia Roh Kudus Anda semakin berani menjadi saksi-saksi Kristus. @Tim Komsos.

Sugeng Rawuh

Selamat datang di LoncengBintaran, media komunikasi dan informasi Paroki St. Yusup Bintaran-Yogyakarta